Pemanfaatan teknologi dalam sistem birokrasi dan administrasi pendidikan saat ini telah berkembang pesat. Di Kota Denpasar, penerapan sistem presensi berbasis foto dan geotagging (penanda lokasi) merupakan langkah maju yang patut diapresiasi untuk mendisiplinkan para Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun tenaga non-ASN di lingkungan sekolah. Sistem ini secara teknis memastikan bahwa setiap pegawai benar-benar berada di titik kordinat sekolah saat jam masuk dan jam pulang. Namun, di lapangan, teknologi canggih ini ternyata masih menyisakan celah bagi munculnya fenomena yang saya sebut sebagai "disiplin semu".
Baru-baru ini, dalam kapasitas saya sebagai Pengawas Sekolah, saya berhadapan dengan sebuah kasus indisipliner yang cukup ironis. Seorang tenaga teknis (pesuruh) di salah satu sekolah binaan kedapatan melakukan manipulasi kehadiran. Secara sistem, rekam jejak presensinya sempurna, ia selalu absen datang dan absen pulang tepat waktu di lokasi sekolah. Namun pada kenyataannya, setelah melakukan absen datang, yang bersangkutan langsung meninggalkan sekolah tanpa melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Ia baru kembali menampakkan diri di sore hari semata-mata demi melakukan absen pulang.
Kasus ini menjadi tamparan sekaligus bahan refleksi yang mendalam. Sebuah sistem presensi, secanggih apa pun, hanya mampu mencatat "kehadiran fisik" sesaat, namun tidak berdaya merekam "integritas" dan "kinerja".
Lebih dari Sekadar Menghukum: Peran Pendampingan Pengawas Sekolah
Jika tenaga teknis saja bisa menemukan celah untuk melakukan indisipliner sistemik seperti ini, bukan tidak mungkin celah mentalitas yang sama bisa menjangkiti ekosistem yang lebih luas, termasuk para guru dan bahkan kepala sekolah. Mengandalkan pengawasan pada mesin dan aplikasi saja terbukti tidak cukup. Di sinilah letak urgensi kehadiran seorang Pengawas Sekolah yang sesungguhnya.
Paradigma pengawasan saat ini telah bergeser jauh dari sekadar mencari kesalahan (watchdog) atau menjatuhkan sanksi (punitif). Peran pengawas sekolah saat ini adalah sebagai pendamping, pembina, dan mitra strategis (critical friend) bagi seluruh warga sekolah. Menghadapi kasus "disiplin semu" ini, pendekatan yang saya lakukan berfokus pada beberapa langkah esensial:
1. Menggali Akar Permasalahan (Investigasi Berbasis Empati)
Tindakan indisipliner jarang terjadi tanpa alasan. Langkah pertama yang saya lakukan adalah memanggil yang bersangkutan untuk berdialog dari hati ke hati, tanpa tendensi menghakimi di awal. Apakah ada masalah ekonomi keluarga yang memaksanya mencari pekerjaan sampingan di jam kerja? Apakah ada masalah psikologis, atau justru ada pembiaran dari lingkungan kerja? Mengetahui akar masalah (akar rumput) sangat penting untuk menentukan jenis treatment pembinaan yang tepat, bukan sekadar mengeluarkan surat teguran.
2. Penguatan Kapasitas Manajerial Kepala Sekolah
Kasus pegawai yang bisa leluasa datang dan pergi tanpa ketahuan menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem kontrol internal sekolah. Sebagai pengawas, tugas saya adalah mendampingi Kepala Sekolah agar lebih peka dan berani mengambil sikap manajerial. Kepala Sekolah harus mampu membagi habis tugas pendampingan dan pengawasan melekat (waskat) di internal mereka, sehingga tidak ada ruang bagi pegawai untuk memanipulasi jam kerja.
3. Mengembalikan Makna "Bekerja" sebagai Integritas
Bagi para guru dan tenaga kependidikan lainnya, kasus ini harus menjadi studi kasus bersama. Saya menggunakan momentum ini dalam rapat pembinaan untuk kembali meluruskan mindset. Bekerja di dunia pendidikan bukan sekadar menggugurkan kewajiban absensi di hadapan aplikasi, melainkan sebuah pengabdian yang disaksikan oleh hati nurani. Pemenuhan jam kerja harus berbanding lurus dengan kualitas layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa.
Membangun Budaya Malu dan Bertanggung Jawab
Teknologi geotagging di Kota Denpasar adalah alat bantu yang sangat baik, namun ia harus diimbangi dengan pembangunan karakter SDM-nya. Pendampingan yang konsisten dari pengawas sekolah bertujuan untuk menumbuhkan "budaya malu", malu jika menerima hak (gaji/tunjangan) namun tidak menunaikan kewajiban, serta malu jika hanya mengejar presensi tanpa memberikan kontribusi.
Tantangan ke depan tentu tidak semakin mudah. Modus indisipliner mungkin akan terus bermutasi seiring dengan perkembangan zaman. Namun, selama pendekatan yang kita gunakan berbasis pada penguatan integritas, pembinaan yang manusiawi, dan pengawasan manajerial yang solid, kita dapat menjaga marwah pendidikan di Kota Denpasar. Sistem presensi boleh saja direkayasa oleh oknum, namun jejak kinerja dan integritas akan selalu terlihat dari kualitas sekolah yang kita bangun bersama.